Etika ketika melewati sebuah kerumunan

Saya seringkali melewati sebuah kerumunan yang membuat saya sulit untuk menerapkan etika yang baik di jalanan. Meskipun kebanyakan orang di perkotaan ini ignorant, shelfish dan lo-lo, gue-gue, tetapi sebagai seseorang yang terpelajar etika itu harus diterapkan dimanapun. Termasuk pada hal yang satu ini.

people in the garbage area

people in the garbage area

Ketika melewati tempat semacam ini, saya sering dibuat salting. Saya sering menutup hidung dan mulut rapat-rapat ketika terpaksa melintasi jalan yang terdapat pos pembuangan sampah ini. Pasalnya bau menyengat yang dihasilkan dari sampah-sampah ini membuat saya pusing dan mual. Faktor penguatnya lagi, menurut Robert L.Wolke (dalam What Eistein Told to His Barber:2004) bau busuk yang dihasilkan oleh si sampah jika tercium di hidung kita artinya ada sebagian partikel si sumber busuk itu yang turut masuk ke dalam tubuh. Dari sinilah saya ngeri membayangkannya. Apa yang akan terjadi nanti? sakit..

Perlu Anda ketahui, penduduk yang memanfaatkan sisa-sisa sampah ini tidak pernah menutup hidung dan mulutnya dengan masker. Mereka tampak sangat menikmati bergulat dengan sampah-sampah yang entah berapa ribu kuman di sana. Inilah yang membuat saya risih, mereka menganggap sombong orang yang suka menutup muka katika melewati mereka. “Aduh, Bau ya?” katanya menyindir yang lewat, dan saya sering dikatai di tempat ini. Bukan sombong, melainkan mengamankan saluran pernafasan.

Entah pesan apa yang mereka terima dari hal ini. Entah etika apa yang musti saya terapkan ketika melintasi mereka ini. Bukankah seharusnya mereka juga sadar kebersihan dan kesehatan?

Ada yang punya usul?

 

2 thoughts on “Etika ketika melewati sebuah kerumunan

  1. Cahya

    Gunakan masker πŸ™‚ – karena kalau di lihat dari sisi etisnya, sampah menumpuk seperti itu seharusnya tidak ada di lingkungan pemukiman warga yang sadar akan kebersihan.

    Jika warga sekitar sendiri tidak mengindahkan etika kebersihan, mengapa kita terlalu peduli dengan sopan santun?

    Kadang saya dibuat jengkel dengan analogi terbalik mereka yang cuek dengan sampah.

    Like

    Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s