Dampak terobosan bisnis kurang ilmu di masyarakat

Kata beberapa pebisnis, “Bisnis itu mudah asal pandai-pandai membaca”. Maksudnya pandai-pandai dalam membaca masalah pokok ekonomi yang sedang terjadi , barang apa yang akan dibuat yang sekiranya dibutuhkan masyarakat , bagaimana cara membuatnya, dan untuk siapa barang itu nantinya.

Saya bukan ahli ekonomi, namun inilah peristiwa yang saya amati belakangan ini yang terjadi di sekitar saya. Pebisnis odong-odong beralih ke kereta motor . Inilah yang saya maksud dengan membaca sekitar. Bisnis hiburan murah yang terwujud dalam odong-odong ini dulu sempat digemari anak-anak. Selain murah hiburan ini juga memperkenalkan lagu-lagu daerah sampai lagu-lagu nasional yang pada waktu itu masih menjadi hits-nya anak-anak. Namun perkembangan lagu-lagu modern membuat lagu-lagu daerah dan lagu –lagu nasional tidak lagi menduduki top list-nya anak-anak, malahan membuat anak-anak bosan. Itulah sebabnya odong-odong tak lagi digemari anak-anak, selain memang karena keasyikan permainan itu hanya itu-itu saja. Untuk itulah pebisnis odong-odong beralih wahana setelah menemukan terobosan baru.

Kereta motor, begitulah saya menyebutnya. Namun anak-anak lebih suka menyebutnya kereta saja. Seperti namanya, wahana itu terdiri dari rangkaian mirip becak yang dijalankan dengan sebuah mesin, sebuah motor tepatnya. Rangkaian itu menyerupai sebuah kereta karena rangkaian itu memang panjang seperti kereta. Hampir sama seperti odong-odong, kereta ini juga difasilitasi beragam lagu yang kebanyakan lagu-lagu dewasa. Bedanya kereta ini aka mengajak penumpangnya berkeliling sesuai dengan track si sopirnya.

Laris, memang. Penumpangnya tak hanya dari kalangan anak-anak saja, melainkan dari usia balita sampai ibu-ibu juga turut menikmati wahana ini. Tak jarang remaja SMA yang pulang dari sekolah pun ikut menjajal wahana ini meskipun sempat menyembunyikan wajahnya malu. Saya terbilang cukup gengsi untuk mencobanya.

Sayangnya dengan banyaknya ragam usia yang menjadi penumpang kereta ini mendorong pemilik wahananya memberikan lagu-lagu yang tidak sesuai dengan penumpang yang masih anak-anak. Banyak sekali balita yang masih disusui ibunya itu turut mendengarkan Iwak peyek-nya Trio Macan. Pengaruh lagu-lagu orang dewasa sangat sulit dibatasi terkait dengan orangtuanya yang mewajarkan pengaruh itu. Miris, anak usia 4 tahun sudah hafal lagunya Trio Macan.

Namun itulah yang saat ini terjadi, banyak pebisnis yang tidak menghiraukan efek negatif dari usahanya. Jika sekali jalan dalam 5 gerbong dengan jumlah penumpang 10 orang, maka anak-anak yang teracuni sudah 10 orang. Jika 1 hari berkeliling sebanyak 50 kali maka sudah 500 anak yang teracuni dan belum ditambah anak yang berkali-kali menaiki wahana itu. Tidak sadar, hanya demi uang beberapa ribu sudah merusak generasi muda sebanyak itu. Inilah faktanya dari dampak terobosan bisnis yang kurang ilmu. Parah.

Itulah sebabnya ada pebisnis yang berkata “Bisnis itu susah”. Untuk bisnis mainan anak-anak salah satunya, bisnis ini harus murni mendidik anak, bukan semata-mata mencari keuntungan dan melihat anak-anak tertawa-tawa dengan mainan barunya. Seperti yang diungkapkan salah seorang pebisnis balok di sekolah-sekolah PAUD dan TK, untuk sekolah –sekolah yang sadar betapa pentingnya kebenaran dan ketepatan mainan untuk anak kebanyakan rugi dan enggan mensuplai permintaannya. “Bisa banyak ruginya, kami harus mengulang-ulang pembuatan balok untuk bisa sesuai dengan standarnya. Bahan dasarnya (kayu) mahal, belum lagi kalau jarum ukirnya patah. Bahkan teknologi laser saja masih sering missed dalam menentukan ketepatan ukuran dan bentuk balok. Meski tau itu salah, tetap saja harus dijual. Mana ada pebisnis yang mau rugi”.

Tetapi itulah risiko berbisnis. Sesuai yang tertuang dalam hukum ekonomi, pebisnis itu pasti berani, berani rugi dan berani maju. Tergantung sejauh mana keinginannya untuk berbisnis, maka itulah yang akan terjadi nantinya. Seperti salah seorang konsulat balok asal Amerika (saya lupa namanya) kini produk baloknya digunakan sebagai standar sekolah-sekolah unggulan setelah mengalami ratusan kegagalan dalam pembuatannya menuju standar.
“Orang bisnis itu harus berilmu, bukan ilmu untuk bisnis”

Menjadi sempurna itu memang sulit, namun bisa diupayakan dari sejauh mana usahanya. Bukankah untuk anak tidak boleh coba-coba? 😀

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s