Strategi bertahan bagi pengunjung Jakarta

Lama tidak turun ke jalanan, selain membuat kaki saya pegel-pegel ternyata membuat saya terserang radang ternggorokan yang akhirnya menjadi batuk yang serius. Inilah akibatnya jika lalai dengan aturan main, akhirnya menikmati akibatnya sendiri.

Harusnya, selalu siap disegala kondisi harus sudah menjadi sebuah kultur seseorang mengingat di Jakartalah tempat tinggalnya. Kalau tidak siap atau lalai maka yang terjadi adalah seperti yang saya alami baru-baru ini. Lama tidak berjalan naik turun di jalanan dengan kondisi udara yang penuh debu dan kuman-kuman yang beterbangan membuat saya terserang penyakit. Untuk itulah bagi pengunjung Jakarta disarankan sekali untuk membawa tour guide yang perduli dengan kesehatan. Orang yang sudah mengenal Jakarta dan peduli kesehatan pasti tidak akan melupakan atribut kenyamanan untuk melakukan perjalanan di Jakarta. Tentu saja selain harus safety riding.

Seperti yang dialami teman saya dari Solo, mas Hendri, yang beberapa waktu lalu main-main ke Jakarta. Berdasarkan sharingnya di Twitter sepulang dari Jakarta mas Hendri terserang penyakit juga. Duh, menurunkan kredibilitas Jakarta saja 😦 . Memang, perlu stategi untuk bisa bertahan di Jakarta.

Strateginya sih cukup mudah sebenarnya, namun banyak yang melalaikan, seperti kasus saya misalnya. Saya hanya perlu menyiapkan masker sebagai penutup hidung dan mulut, tissue untuk mengelap/membersihkan yang perlu, serta obat anti iritasi mata karena mata coklat jernih ini rawan jika diadu dengan debu-debu di Jakarta. Bagi yang berasal dari daerah beriklim Af, Aw atau Am mungkin sudah terbiasa dengan suhu rata-rata siangnya, meskipun yang kaget masih banyak, namun memang masih perlu persiapan fisik yang kuat didukung dengan antibody andalan.

Sayangnya dan sangat disesalkan, saya melalaikan salah satu diantaranya yang mengakibatkan saya tidak bisa fokus mengerjalan soal pagi ini. Padahal saat ini kesehatan menduduki urutan pertama didaftar kebutuhan saya saat ini. Yang bisa saya lakukan saat ini adalah bagaimana caranya saya bisa segera sembuh. Jeruk nipis, ambroksol atau apalah, saya hanya ingin sembuh dengan segera.

10 thoughts on “Strategi bertahan bagi pengunjung Jakarta

    1. jarwadi

      Hendri kan kampungan tulen hehe, dia ke bandung sendiran saja ketakutan sampai merengek rengek minta ditemani, walau akhirnya datang ke bandung sendirian dengan hati mengecil sampai seukuran biji sawi, hihi

      Like

      Reply
    1. Tina Latief Post author

      jakartanya mana mba?
      betul, jakarta makin parah saja. Meskipun ada kendaraan ramah lingkungan namun kendaraan yang lain justru makin banyak..
      sama saja bohong..

      Like

      Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s