Sang legenda yang merakyat

 beautiful painting made by Rizopus

Postingan ini  bukan ditujukan untuk memperlihatkan hidangan makan siang saat ini. Namun dari sini Anda bisa melihat hasil karya dari sang legenda. Siapa lagi kalau bukan sahabat saya Rhizopus si jamur yang berasal dari devisi Zygomycotina. Melihat karyanya yang begitu mengesankan, saya jadi menunda makan siang saya demi mengabadikan hasil karyanya. Siapa tau teman-teman saya belum pernah lihat keindahan lukisan dan relief yang sangat susah dibuat bahkan oleh tangan-tangan seniman dunia sekalipun.

bahkan ukiran Jepara dan batik Solo pun tersaingi mmahakaryanya

bahkan ukiran Jepara dan batik Solo pun tersaingi mahakaryanya

Untuk menghasilkan karya mengagumkan sampai ketenarannya merakyat seperti ini, sang seniman tidak mengerjakannya sendiri. Ribuan bahkan jutaan tangan turun tangan dalam pembuatan karya yang melegenda ini. Siapa yang tidak kenal dengan lukisan ini?

Untuk menghasilkan karya indah ini, kedelai-kedelai harus direbus sampai kulitnya terkelupas. Lalu dipisahkan dari kulitnya dan dicampur dengan ragi, yaitu Rhizopus yang belum disemaikan. Kemudian dibungkus dengan daun pisang atau jati (untuk tradisional) atau dimasukkan ke dalam kemasan/ plastik (modern). Baru setelah itu Rizhopus akan bekerja dalam ruangan yang tertutup dan karyanya baru bisa ditilik beberapa hari kemudian. Hanya sampai disini saja peran manusia, setelahnya semua dikerjakan sang jamur.

rhizopus dari balik mikroskup

rhizopus dari balik mikroskup

Dan inilah sang pemilik mahakarya yang kini sudah merakyat itu. Ternyata sang seniman pun cantik ya..

Pantas saja karyanya juga cantik dan menawan. 🙂

13 thoughts on “Sang legenda yang merakyat

  1. marsudiyanto

    Hasil Karya itu perjalanan maupun prosesnya amat panjang. Saya tau karena didekat rumah saya ada pabriknya.
    Proses pencuciannya butuh tenaga ekstra, belum lagi perjalanan kedelainya yang mungkin berpuluh2 kilometer.
    Sementara kita taunya sudah dipiring, dihadapan kita.
    Hidup tempe…

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      saya jangan di ikutin di kata “kita” dong pak, waktu studi sains di lab, saya juga bikin dan mengamati nih…
      huhuuhuhu 😦
      tapi enak yang diungkap di daun ya pak…

      Like

      Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s