Suara yang tak bersuara: Solusi terbaik ketika sakit

Judulnya seperti koran politik saja, tetapi untuk urusan virus dan bakteri saya mau-mau saja berpolitik. Pertimbangannya kalau minum obat memang kemungkinan bisa lekas sembuh. Masih kemungkinan karena yang menentukan sembuh atau tidaknya suatu penyakit bukan obat atau dokter. Namun pernahkah Anda berfikir kalau virus dan bakteri akan membentuk kekebalan terhadap penyerangnya?

Ini walang sangit jepretan teman saya

Ini walang sangit jepretan teman saya

Suatu ketika dulu ketika saya masih berada di desa tempat saya dilahirkan, saya suka mendengar keluhan masyarakat tentang hama tanaman yang menyerang ladang-ladang mereka. Berbagai tindakan preventif pun dilakukan sebelum tanaman mereka benar-benar ludes oleh sang hama. Warung Pak Tukir yang menjadi langganan masyarakat berbelanja aneka kebutuhan pun menjadi tempat pertama yang dikunjungi untuk mencari insektisida. Obat pembasmi hama yang paling saya hafal adalah Decis, ini karena dari kakek saya masih suka bercocok tanam sudah mulai menggunakannya. Suka berpesan kepada saya β€œCuci dulu timunnya, itu bekas di Decis”.

Hihihi this is beautiful creature, really...

Hihihi this is beautiful creature, really...

Keluhannya bertambah ketika Decis sudah tidak mempan lagi terhadap hama-hama tanaman yang semakin merusak tanaman dari waktu ke waktu. Dulu mungkin belalang juga ikut mati kalau terkena semprotan cairan ini, namun sekarang hanya pingsan. Begitu pula dengan hama yang lain, masih saja lekat, hidup di daun atau batangnya. Sebagai gadis yang memiliki ketertarikan terhadap sains, saya membuat beberapa opsi tentang fenomena ini. Pertama, apakah kandungan zat pembasmi serangga ini berkurang seperti yang dilakukan pabrik-pabrik makanan yang mengurangi berat bersih makanan yang berada di balik bungkusnya yang besar itu? Atau kedua, apakah jenis hama tertentu sudah kebal dengan obat-obat yang biasa diguyurkan pak tani kepada mereka? Itulah hipotesis saya dulu mengenai hama yang menyerang sayuran-sayuran pak tani di daerah saya.

Kembali ke virus dan bakteri yang belakangan ini menampel di tubuh saya dan membuat aktivitas saya sedikit terganggu. Sudah ada dua minggu saya sakit, pertama radang dan batuk yang membuat saya tidak bisa bersuara, kemudian gangguan pernapasan karena diserang flu. Memang hanya penyakit ndeso,tetapi saya tidak mau sakit yang melebihi ini. Begini saja saya sudah mengeluh, apalagi yang lain. Engga…

Dari awal sakit saya tidak minum obat apapun, entah itu obat ringan (bukan bahasa saya menyebutnya ringan) ataupun yang berat. Ada obat di kotak WHO saya (kotak obat saya mendunia ya) namun saya tidak menyentuhnya sama sekali. Hanya modal percaya kalau kebahagiaan bisa menyembuhkan segala macam penyakit, biarpun kedinginan dan bersin-bersin saya tidak minum obat. Paling berat saya ditemani Strepsils dan UC-1000. Seberapa perlunya minum obat untuk saya?

Pernah sakit kepala sampai minum obat lebih adari takarannya?

Kepercayaan saya, seperti hama, virus dan bakteri pasti lama-lama akan kebal dengan obat-obat yang diciptakan manusia. Mungkin sebelum manusia meng-upgrade obat-obatannya, penyakitnya sudah upgrade lebih dulu dalam hitungan detik. Kali ini pilek masih bisa sembuh dengan Panadol Cold dan Flu, kira-kira berapa tahun lagi bertahan menjadi tabib? Doanya sih semoga jangan sakit, tetapi siapa yang tahu kapan akan sakit. Hanya berusahaΒ  menjaga kesehatan melalui pola hidup yang sehat.

Bagaimana dengan Anda? Apakah solusi terbaik untuk penyakit Anda? Seberapa perlu Anda minum obat?

13 thoughts on “Suara yang tak bersuara: Solusi terbaik ketika sakit

  1. Irfan Handi

    Alhamdulillah sampai detik ini saya masih dalam kondisi fine-fine aja Neng, kalau mulai terasa ngedrop, paling banyak minum air putih dan beristirahat. Untuk obat sendiri saya jarang konsumsi kalau gak bener-bener dibutuhkan. πŸ™‚
    Semoga kita selalu dalam lindungan-Nya. Amin.

    Like

    Reply
  2. elfarizi

    Wah, hati-hati Mbak Tina dengan obat Kimia. Dua tahun lalu, saya sering sakit kepala dan sering konsumsi obat warung. Satu tahun kemudian, sakit kepalanya menjadi-jadi. Pas ke dokter, ternyata saya ketergantungan obat. Dan, dokter malah kasih penetralisir. Alhasil, sekarang sudah sangat jarang sakit kepala πŸ˜€ #JustShare

    Like

    Reply
  3. Cahya

    Ya, asal ndak terlalu berat sih ndak masalah. Tapi kalau sampai tambah parah, ya setidaknya pertimbangkan juga bantuan medis.

    Kalau masalah hama, saya lebih suka pendekatakan dengan musuh biologis alaminya :).

    Like

    Reply
  4. ardiansyahpangodarwis

    alhamdulillah kalau saya jarang sakit
    sekalipun sakit pasti saya olah ragain dan sedekah deh yang banyak πŸ™‚
    dan kebetulan saya juga kan pengkonsumsi suplement herbal

    Like

    Reply
  5. misstitisari

    Yang tahu fit tidaknya tubuh kita kan sebenarnya kita sendiri, kalau sakit ke dokter pun si dokter akan tanya ke kita dulu kan keluhannya apa, baru kemudian dia bisa kasih obat. Makanya kalau saya sih, kalau udah berasa nggak enak tubuhnya, sadar diri langsung istirahat, banyak minum air putih, makan buah dibanyakin, terus berdoa. InsyaAllah sehat lagi πŸ™‚
    Jaga kesehatan Tina, sehat itu mahal πŸ™‚

    Like

    Reply
  6. Falzart Plain

    Ini menceritakan tentang ‘kebal’, ya? Hehehe…
    Sebenarnya tubuh itu adalah pelindung yang hebat sekali dari berbagai macam penyakit. Obat hanya membantu. Tapi, kadang-kadang ada mekanisme pertahanan tubuh yang justru ke arah merugikan. Makanya sebaiknya ke dokter kalau sudah gak bisa hadapi penyakitnya (sebenarnya lebih cepat lebih baik, sih).

    Tapi kalau soal kepercayaan untuk mengatasi keluhan penyakit, ini memang banyak digunakan. πŸ™‚

    Like

    Reply
  7. papa Dhika dan Vista

    Kalau hanya flu, saya jarang minum obat. Saya setuju dengan Tina bahwa virus atau penyebab penyakit lainnya itu lama-lama bisa kebal terhadap obat tertentu. Sering saya mendengar orang sakit mengeluh bahwa obat yang dulu biasa ia minum kini sudah tak mempan lagi…

    Like

    Reply
  8. anislotus

    jangan dikit2 minum obat ntar resisten… kalo saya ngerasa nggak enank badan tidur yang banyaak atau buat obat sendiri yang alami… kalo nggak sembuh juga pergi ke dokter minta obat generik…^^

    Like

    Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s