Meneladani si Bebek

Kalau manusia dikategorikan omnivora, saya menolak dimasukkan ke dalam kategori itu. Meskipun saya sudah tau manusia memiliki jenis gigi yang beragam dibanding mahkluk yang lain. Gigi taring untuk si pencabik daging saya punya, gigi seri untuk si penggigit wortel saya punya, gigi geraham untuk menghaluskan semua yang masuk ke mulut saya juga punya. Lengkap sudah jika mau disebut si pemakan segala. Tapi saya tetap tidak mau.

Untuk makan saya termasuk orang yang cukup selektif dalam memilah dan memilih makanan meskipun dalam keadaan lapar sekalipun. Saya tidak mau dianggap sok pilih-pilih makanan, tetapi untuk ukuran gadis yang gampang sekali menaikkan angka dalam timbangan, saya harus benar-benar mengontrol pola makan dan apa yang akan saya makan. Sedikit-sedikit tau lah bagaimana mengatur jumlah kalori yang saya butuhkan setiap harinya. Untuk itu saya lebih suka dikategorikan sebagai orang yang selektif, termasuk makanan.

The Duck King

The Duck King

Inilah alasannya kenapa saya tergolong dalam bukan pecinta bebek. Suka saja tidak apalagi sayang dan cinta? Pengalaman mencicipi olahan bebek yang cukup enak adalah ketika saya makan siang di The Duck King . Dari namanya sudah kelihatan, menu utama yang disajikan di sana adalah bebek. Seperti yang kita ketahui, bebek mengandung banyak kolesterol. Sexy, langsing, ceking namun banyak lemak yah..Untuk itu perlu keahliah khusus untuk memasak si sumber kolesterol ini sepaya bisa dinikmati sebagai hidangan sedap tanpa khawatir dengan timbangan. Khususnya jika pemilik restoran tidak ingin menambah jumlah pelanggan yang sedikit rewel seperti saya.

Biasanya kalau mendapati makanan berat seperti ini saya akan langsung tidak ‘makan’ dalam beberapa hari atau pencegahan pertama minum sari jeruk sebagai pengimbang makanan berlemak dahsyat. Pokoknya benar-benar menjadi si langsing yang bangga dengan makanannya.

bebek Kaleyo break into the night

bebek Kaleyo break into the night

the cage of bebek Desa

the cage of bebek Desa

Entah formula apa yang terkandung dalam resep si Bebek Kaleyo, tapi kali ini duel maut antara si Bebek Desa dengan si Bebek Kaleyo harus berakhir tidak seimbang. Kalah telak. Harus diakui kalau bebek desa kali ini tidak berpotensi mengalahkan pesaingnya dan membawa pulang  jutaan rupiah. Kedua kandang bebek ini bersebelahan, tempatnya lebih memadai si Desa, lebih luas, itu saja yang saya tau. Berbeda dengan si Kaleyo, plangnya saja besar namun tempatnya sempit jika dibandingkan dengan puluhan pengunjung yang memadati halaman usaha orang lain itu. Si Kaleyo ini beroperasi dari pukul 11-23 wib saja. Tampak memadati jalan mulai dari pukul 7 malam. Kalau malam, si bebejk ini memanfaatkan halaman ruko usaha lainnya yang telah tutup jam operasinya. Halaman inilah yang digunakan untuk menampung puluhan pengunjung yang tidak tertampung dalam ruangan sesungguhnya. Jangan heran ketika pelayannya juga banyak. Bahkan tukang parkir dadakan saja bisa kebanjiran disini.

there are too many people over there...

there are too many people over there...

Benar-benar black magic.

Kagum dengan mantera yang digunakan untuk meraup puluhan pengunjung yang parkirnya sampai memenuhi badan jalan. Bisnis kuliner yang mak nyuss. Saya jadi penasaran dengan si recipe maker. Berapa tahun sang master koki bereksperimen dengan bebek-bebek itu hingga menemukan formula ampuh itu? Bagaimana menejemen usahanya sampai karyanya merakyat seperti ini. Kali saja kalau saya punya usaha sendiri bisa meneladani sang master. Siapa tau dengan begini dari tidak bisa masak justru menjadi pemilik tempat makan bergengsi. Engga lucu kan jadinya…?

 Nb: buat para pengamen silakan mengunjungi tempat ini, sekalian menghibur pengunjung yang sedang makan. Pasti kantongnya penuh deh…

Potong bebek angsa…angsa di kuali, nona minta dansa, dansa empat kali..Sorong ke kiri, sorong ke kanan, tralalalalalalalala la la…

24 thoughts on “Meneladani si Bebek

  1. uyayan

    urusn makan,,, PR berat untuk istri saya..
    saya bukan termasuk orang yang semua lauk bisa saya makan tapi alasanya beda bukan karena kolesterol tapi gak suka…
    kalau bicara bebek seingat saya baru sekali mencicipi daging bebek itu juga gak sempat di telan keburu (maaf) di muntahkan lagi, setelah tau yang saya makan itu daging bebek…

    Like

    Reply
  2. papa Dhika dan Vista

    Ikut nyanyi dulu ha…. tralala lala lalala lala la….la… (*recehnya mas….*, sekalian ngamen)
    Pantesan kamu langsing terus, Tin. Gak berani bodinya kayak mentok gitu ya? Aku ya senang bebek, tapi daginnya nggak lah. Bebek itu bisa dicontoh dari cara berbarisnya…. rapi. Nggak seperti ayam yang barisnya gak teratur, malah saling patuk sesama ayam.

    Like

    Reply
  3. ceritabudi

    hahahah sobat saya itu tau persis kayaknya kalau mbak langsing…memang pernah lihat langsung broww heeee..saya pernah menjadi penjual bebek tapi tidak memakannya heeee, cara berbarisnya boleh di contoh seperti kata sobat saya, tapi jangan bawelnya heeee

    Like

    Reply
  4. armae

    Setauku kolesterol di bebek tidak separah itu kok. hanya (hanya???) satu setengah kali nya daging ayam bagian paha (kurang lebih). Yang bikin kolesterolnya tinggi, biasanya dari kulitnya, dan pengolahannya yg lebih sering di goreng daripada di masak dengan cara yg lain.

    Aku termasuk penggemar bebek loo. Hihihi 😀

    Like

    Reply
  5. Pingback: Belajar dari Bebek dan Ayam « Budiastawa's Blog | Hidup adalah Berbagi

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s