Kenek untuk metromini

Seakan menunggu pangeran berkuda putih, ketika naik metromini yang tidak ada kondektur atau biasa di paggil mas kenek ibarat pakai motor yang tidak ada remnya. Tidak bisa berhenti seperti yang kita inginkan dan sangat berbahaya.

Raja ugal-ugalan, kasar,cepat, mau menang sediri, acuh, engga beraturan pokoknya itulah si jingga MetroMini. Brutal adalah kata yang mewakili bus yang satu ini. Semua sudah tahu itu.Tapi jalannya yang demikian rupa didalangi oleh sopir-sopir yang nekat nyopir. Polisi saja kewalahan menangani kebrutalannya, ditilang saja tidak cukup rupanya.

Bus yang di miliki oleh pihak management Metromini ini masih menggunakan sistem paroan atau pembagian hasil kerja. Seperti kendaraan umum yang saya kenal, bus ini memilikii 2 atribut dalam berkendara yaitu sopir dan kondektur. Sopir metromini biasanya di dapat pihak management dari orang-orang yang mendadak nyopir. Bisa nyopir tapi ilegal alias engga punya SIM. Baru kemudian mengurus SIM ketika banyak operasi kendaraan oleh sejumlah polisi DKI. Kondekturnyapun bisa dari bermacam-macam golongan usia dan jenis kelamin. Wanita-wanita tangguh yang tidak punya pekerjaan pun nekat menjadi kenek. Juga anak-anak di bawah usia kerja yang menjadi kenek di sejumlah bus ini.

Sistem kerja mereka dibagi 3. Untuk pihak management, untuk sopir dan untuk kenek. Bagi sopir yang masih ada ikatan darah atau pertemanan yang solid dengan si kenek, pembagian ini tidak masalah, tetapi sopir yang enggan berbagi lebih memilih untuk nyopir sendiri tanpa partner. Mereka lebih memilih untuk tidak ber-kenek. Sisi negatif saya sebagai penumpang yang terkadang menggunakan kendaraan ini lebih banyak karena resiko terlalu banyak, tidak ada yang menjaga keselamatan saya. Tidak ada yang memberikan kode penurunan saya kepada sopir ugal-ugalan macam itu.

Namun mau bagaimana? Uang adalah prioritas bagi mereka di Jakarta. Kenek-kenek ini pun prioritas untuk saya ketika saya menggunakan bus ini sebagai armada tempur. Jika tidak ada kenek sistem pembayarannya lebih sulit karena ketika saya duduk di belakang saya harus merangkak ke depan untuk menyerahkan uang 2000-an itu ke tangan pak sopir. Belum pula ketika tempat berhenti yang saya minta melenceng jauh dari tujuan karena sopir melayangkan matanya ke arah uang yang saya pegang. Where are you my white horse man?

Pesan saya: pastikan Anda memilih bus yang ada kondekturnya. Itu lebih menguntungkan keselamatan Anda. Pastikan semuanya aman dan nyaman. Untuk pengguna yang belum tahu rute bus dan takut nyasar bisa klik di sini.

5 thoughts on “Kenek untuk metromini

  1. Outbound Malang

    bicara tentang kenek metomini, saya jadi ingat waktu saya pergi ke surabaya dan saya dibohongi sama keneknya.. katanya ke terminal eh ga taunya malah nyasar ke jalan tol. untung aja masih ada bus yang lewat ke arah malang.
    ternyata ga semua kenek bisa dipercaya juga sob, mending tanya sama orang2 sekitar aja kalo mau naek bis. fyuh..

    oiya, mampir buat arung jeram kemari ya boleh2 aja lah sobat.. masa ga boleh si? haha
    tapi minim 5 orang ya sob.. ditunggu2. thanks sobat..
    ditunggu kunjungan baliknya ya
    happy blogging 🙂

    Like

    Reply
  2. Bagus H. Jihad

    Memang harus berhati2, dimana saja apalagi di MM…
    Bila kondisinya penuh, mungkin saja separuh isinya adalah copet…

    Rindu juga naik MM…coz sdh 10th tdk pernah naik si Jingga lagi.

    Salam Takzim.

    Like

    Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s