Jika Saya Menjadi Anggota DPD

Sebagai warga yang baru saja berdomisili di DKI Jakarta ‘lagi’, saya tidak tahu apa yang diharapkan dan dibutuhkan oleh masyarakat di Jakarta. Orang-orang di sini kaya-kaya, itu yang saya lihat dari banyaknya antrean ATM ketika saya numpang ngadem di salah satu pos layanan ATM 24 jam. Berapa lembar ratusan ribu rupiah yang dikeluarkan untuk membayar sekali belanja? Semua punya caranya masing-masing untuk membelanjakan uang itu demi kesenangan dan kepuasan pribadi. Seperti sekarang ini, saya sedang menikmati semangkuk bakso Mang Ole, bakso favorit yang dipromosikan teman saya. Nikmat sekali.

Saya tidak ingat kapan terakhir saya mencoblos. Mencontreng atau mencoblos? Saya lupa  juga. Saya tidak ingat kapan ada pemilihan anggota DPD RI dan kapan saya ikut pemilihan umun pertama kali. Waktu itu mungkin saya masih SMA yang masih gencar-gencarnya ujian nasional. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke Jakarta untuk melanjutkan sekolah dan sudah hampir 2 tahun saya menjadi warga DKI Jakarta. Saya lebih suka menyebutnya Sunda Kelapa. Sebagai pecinta seni lebih indah menurut saya.

Belum ada pemilihan umum lagi semenjak saya di Jakarta. Saya tidak tahu nama-nama anggota DPD terpilih tahun lalu yang saat ini masih menjadi wakil daerah di provinsi DKI Jakarta. Saya putuskan untuk Googling daripada saya membiarkan ketidaktahuan saya ini menjamur di otak saya. Sampai akhirnya saya menemukan file dalam format PDF ini Daftar terpilih anggota dewan perwakilan daerah pemilihan umum tahun 2009 provinsi DKI Jakarta . Menurut Wikipedia, masa jabatan anggota DPD RI adalah 5 tahun. Artinya masih ada waktu 4 tahun lagi sebelum 2011 terlampaui.

Dewan Perwakilan Derah (DPD) adalah lembaga tinggi negara lembaga tinggi negaradalam sistem ketatanegaraan Indonesia yang anggotanya merupakan perwakilan dari setiap provinsi yang dipilih melalui pemilihan umum. Begitulah penjelasan Wikipedia. Berdasarkan file yang saya dapat, jumlah anggota DPD RI ada 4 orang yang namanya masih asing di telinga saya.

Di tahun 2009 bertepatan dengan pemilihan anggota DPD RI, ada sebuah jurnal yang terbit di tahun yang sama. Jurnal ini mengisahkan tentang sungai besar dan sangat terkenal yang melintasi wilayah Jakarta. Siapa lagi kalau bukan sungai Ciliwung yang menurut sejarah dulu namanya Tji Haliwoeng. Nama yang diberikan oleh Prabu Siliwangi yang dulu dijuluki Prabu Haliwungan karena sifat temperamentalnya. Cukup masuk akal bila penerusnya mengabadikannya sebagai nama sungai yang tadinya berarus tenang menjadi ganas. Siapa yang tidak kenal dengan tertuduh pembawa banjir ini? Siapa yang tidak kenal dengan jamban raksasa ini? Itulah sebutan untuk sungai Ciliwung saat ini.

Lama tinggal di desa dengan ciri khas alamnya yang masih kuat: udara segar dan sejuk,pepohonan hijau-tinggi menjulang sampai puncak emergent, aliran air sungai yang jernih dan masyarakatnya yang masih sadar lingkungan membuat saya tidak nyaman bila saya memandang jauh di bantaran sungai sekitar Manggarai. Aliran sungai yang bukan lagi air jernih melainkan keruh tercemar aneka limbah, airnya coklat kehitaman di sertai sampah-sampah yang hanyut dari berbagai penjuru wilayah Jakarta. Bagaimana tidak berapa meter tinggi gunungan sampah yang macet di bendungan? Berapa ton massa sampah-sampah plastik yang entah membutuhkann waktu berapa tahun untuk terurai. Sungguh pemandangan yang memprihatinkan. Inilah masalah yang sangat membebani andaikan saya menjadi anggota DPD DKI Jakarta.

pintu air Manggarai

Pintu air Manggarai

Saya tidak bisa melawan fitrah air. Tapi bisa dilihat kebijakan perencanaan kota dan pola hidup masyarakat membuat sungai teraniaya. Tata kota yang tidak sesuai dengan konsep spasial membuat kehidupan air disepanjang sungai tidak memiliki kesinambungan. Badan sungai menyempit dipenuhi bangunan ilegal atau biasa kita sebut penghuni slum area. Jika musim penghujan air sungai meluap ke pemukiman penduduk, namun ketikan musim kemarau air seakan menghilang. Jakarta kekurangan air bersih. Ini terjadi di Jakarta Selatan tempat dimana kakek saya tinggal. Sampai beberapa kali hujan pun tampungan air di sumur belum juga terisi. Banyak sekali warga di daerah itu mengeluh karena kekurangan air bersih. Beban saya jika saya menjadi anggota DPD bertambah.

Saya bukan arsitek dan bukan penata kota. Tapi berdasarkan UU HO.7/2004 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air, UU No 26/2007 tentang Penataan Ruang , ada beberapa kriteria terkait penyediaan air untuk rakyat dan penataan ruang di kawasan perkotaan yaitu kemudahan akses publik terhadap air, partisipasi masyarakat dalam membangun budaya tanah air, penataan muka dan badan air secara berkelanjutan, pengelolaan air, dan limbah ramah lingkungan. Inilah yang perlu saya galakkan bersama anggota DPD di daerah lain jika saya menjadi anggota DPD Jakarta.

Kembali ke masa peradaban kuno di Asia dimana ada sungai Indus di India, Hoang Ho di Cina, Eufrat dan Tigris di Mesopotamia lalu sugai Nil di Mesir. Manfaat yang diberikan sungai-sungai besar ini membawa kawasan negara-negara itu menuju peradaban yang dikenal dunia. Padahal dulu mereka hanya mengandalkan pada kesuburan yang terdapat di tepi sungai. Sampai sekarang peradaban itu masih ada dan berkembang dengan pesat. Jakarta punya Ciliwung yang mengalir dari Cisarua sampai perairan teluk Jakarta. Sudah seharusnya Jakarta menjadi peradaban yang lebih beradab. Bukan menjadikan sungai sebagai jamban sekaligus tog sampah raksasa ribuan penduduk.

Jika warga membuang hajat di sungai artinya tidak ada jamban yang dapat memfasilitasi mereka. Maka harus ada jamban untuk mereka. Jika warga membuang sampah di sungai, artinya belum ada bak sampah untuk menampung sampah. Maka harus ada bak sampah yang cukup besar untuk menampung sampah-sampah yang diproduksi setiap hari. Klasifikasi sampah organik dan anorganik pun harus dilakukan dengan baik karena tidak semua sampah dapat terurai. Warga pun harus tahu bagaimana cara me-recicle sampah-sampah itu. Untuk itu perlu diadakan kegiatan yang dapat membuat warga mau berpikir ulang untuk tidak membuang sampah sembarangan sehingga mau mendaur ulang sampah-sampah itu, terutama penduduk yang mendirikan bangunan ilegal di sepanjang  bantaran sungai  ini  karena produksi sampah mereka juga banyak dan hanya dihanyutkan begitu saja. Sampah harus diubah menjadi barang bernilai sehingga orang akan berpikir “sayang kalau sampah dibuang, kalau bisa bernilai kenapa dibuang?”. Mengingat kebutuhan akan uang di Jakarta juga tinggi, tidak ada salahnya menghasilkan uang dari sampah.

Pencemaran air sungai dapat dikurangi dengan pembuatan instalasi pengolahan limbah agar menjadi air daur ulang untuk kebutuhan mandi, mencuci, berkebun atau hanya sekedar dialirkan kembali. Meskipun memerlukan waktu yang cukup lama, upaya revitalisasi bantaran sungai harus diikuti kegiatan sosialisasi agar warga mau berpartisipasi dengan sukarela bergeser ke kawasan terpadu yang komprehensif. Bergeser bukan digusur. Jangan sampai masyarakat penghuni bantaran sungai ini memilih tinggal di bantaran sungai dan memilih bersahabat dengan banjir. Soalnya banyak kasus yang muncul diberita yang menyebutkan banyak warga yang tidak mau direlokasi oleh pemerintah kerena tidak ada kepastian hidup setelah mereka dipidahkan. Untuk itu pembuatan kawasan layak huni harus benar-benar layak untuk mereka.

Selanjutnya tugas penata kotalah yang harus membangun ulang sistem tata kota Jakarta agar kota lebih beradab. Tugas penata kota bagaimana memposisikan bangunan di daerah aliran sungai (DAS) yang menyebar agar tidak terkena banjir. Semua harus ada ilmunya. Menjadi anggota DPD RI juga harus punya ilmu. Itulah alasannya mengapa saya hanya bisa berandai-andai sekarang. Untuk menjadi angota DPD saya harus sekolah dulu agar punya ilmu yang cukup. Kelak kalau saya sudah jadi lulusan UI, boleh kok dipertimbangkan untuk jadi anggota DPD.

6 thoughts on “Jika Saya Menjadi Anggota DPD

  1. jarwadi

    jadi tanpa penataan yang tepat apa dampak terburuk das bagi peradaban jakarta dan kira-kira seperti apa tatanan daerah aliran sungai yang sesuai dengan pertumbuhan dan demografi jakarta, hehe

    Like

    Reply
  2. amtina Post author

    dampak terburuknya jakarta bisa saja ambles seperti issue perkiraan yang muncul belakangan ini. Masalah Ciliwung Tidak hanya masalah teknis, tetapi problem manusianya juga. Karena banyak warga yang masih menempati area yang sangat dekat dengan daerah aliran sungai maka penanganan pertama adalah mengupayakan agar warga bisa pindah. Alasan warga disuruh pindahkan karena warga banyak yang membuang sampah sembarangan, menyempitkan badan sungai dan mennjadikan tanah sekitar sungai sebagai tempat tinggal yang belum berizin.Tetapi karena menyuruh pindah itu tidak mudah maka penanganan yang tepat adalah menjadikan area kumuh itu menjadi tempat wisata sekaligus tempat tinggal bagi mereka. Perkumuhan bisa diubah menjadi anjungan-anjungan daerah di Indonesia. Terutama rumah panggung yang sesuai dengan kondisi lahan. Kemudian lahan disepanjang sungai ditanami aneka tanaman penguat tanah serta buah-buahan agar bisa dinikmati warga dan pengunjung. Agar semua bantaran sungai bisa dimanfaatkan seluruhnya, perlu juga memfasilitasi bikers dan joggers dengan pembuatan track-track disepanjang sungai. Gratis untuk warga, ada tarif untuk pengunjung. Jika warga disana memiliki tempat itu, pasti mereka mau merawat. Paradigma masyarakat perlu diubah. warga diajari mengklasifikasi dan mengolah sampah. intinya mereka diajak mencintai lingkungan tempat mereka tinggal. Masyarakat harus diajak untuk melihat sampah bukan hanya sebagai masalah tetapi juga dilihat sebagai sumber ekonomi.

    Like

    Reply
  3. amtina Post author

    Topografi jakarta yang datar membuat sistem kanal gagal karena air tidak bisa mengalir secara grafitasi. Ditambah adanya sedimentasi limpur dam sampah yang menghambat aliran air. Kanal hanya bisa mengurangi banjir sesaat, jika ada hujan dengan curah yang lebih tinggi maka banjir tidak bisa dihindari lagi. Sistem polder pun sama. Karena area yang ditetapkan sebagai polder dan waduk sudah dihuni penduduk maka ketika banjir air tidak bisa mengalir ke daerah polder. Ada juga, waduk dengan sistem pompa banyak mengalami kegagalan karena banyak sampah yang menumpuk di pintu waduk.
    Menurunnya infiltrasi air ke dalam tanah mengakibatkan meningkatnya aliran permukaan. Penggunaan lahan untuk permukiman tidak sesuai dengan kemampuan lahan. Untuk menanggulangi ran off, perlu adanya pedoman dalam pembuatan bangunan agar air tidak dialirkan tetapi diserap oleh tanah/ sumur resapan. Teknik ini akan mengurangi tingginya debit air dan penurunan tanah setiap tahunnya.
    Harus ada kompromi dari beberapa pendekatan untuk menanggulanginya. Untuk warga yang tinggal di bantaran sungai bangunan rumah panggung dapat menjadi alternatif.

    Like

    Reply
  4. frelambra

    wah, besok kalau jadi anggota DPD Jakarta beneran, jangan lupa syukurannya. hehe
    Masalah jakarta bukan banjir, tapi kepadatan penduduk dan kemacetan juga.
    So, what you think about that?

    Like

    Reply
  5. amtina Post author

    oh besok kalau dapat BB bellagio orang yang pertama kali aku hubungi kamu deh…hehehe
    masalah Jakarta bukan banjir saja, tetapi kepadatan penduduk dan kemacetan juga, itu benar. Salah satu sebab yang menggagalkan sistem polder adalah lahan yang seharusnya dijadikan proyek polder justru dipakai oleh warga untuk membangun tempat tinggal, entah itu ilegal ataupun yang memiliki sertifikat. Itulah sebabnya perlu diadakan relokasi. Seperti yang sudah saya paparkan di atas bahwa masyarakat yang tinggal di sana tidak bisa digusur begitu saja, namun harus ada kerja sama terlebih dulu. Kebanyakan yang tinggal di slum area adalah penduduk ilegal, berpendidikan rendah, pedatang dari luar Jakarta ataupun pencari kerja yang tidak memiliki tempat tinggal. Orang seperti itu kebanyakan ngeyel jika diberi ceramah. Itu karena mereka tidak paham apa yang baik untuk mereka dan lingkungannya. Jika saya anggota DPD, hal seperti itu tidak bisa dimulai dengan ceramah/ sosialisasi yang bersifat memaksa. Namun perlu dilakukan langkah dari sudut ekonomisnya. Mereka kan butuh uang, agar mendapat uang apa yang harus dilakukan? seperti yang saya paparkan, tempat-tempat itu perlu dirubah sedikit-demi sedikit. Memang susah dan lama, tetapi jika langkah itu bisa merubah paradigma masyarakat maka masyarakat akan sadar sendiri untuk mencintai lingkungan tempat tinggalnya.

    Like

    Reply
  6. amtina Post author

    Jika saya anggota DPD, tentu saya tidak bekerja sendiri, tetapi saya akan mengajak anggota dari daerah lagi dengan membangun sebuah sinergi untuk memajukan kualitas daerah dan lingkungannya. Jika kerja sama saya berhasil, akan lebih mudah merelokasi penduduk yang tidak mendapatkan tempat tinggal dan hanya menjadi penghuni areal perkumuhan di Jakarta ke daerah yang telah menjadi partner saya sebagai anggota DPD. Bahkan penduduk tidak akan direlokasi oleh pemerintah, tetapi mereka akan berpindah sendiri sejalan dengan perputaran lahan kerja. Dimana ada pekerjaan, nanti mereka akan datang sendiri. Tentu mereka akan berfikir ulang akan tinggal lagi di sana atau tidak mengetahui jarak yang cukup membuang waktu dan biaya.

    Baru setelah itu, kemacetan bisa dicarikan solusinya (wah dari ciliwung sampai macet juga yah…ciliwung ini benar-benar sesuatu). Kalau warga bisa beralih ke lain daerah, maka akan ada areal yang kosong. Dari sana kita bisa membuat track-track baru. Kalaupun tidak, maka perlu diadakan peraturan baru bahwa setiap keluarga yang terdiri dari 4-7 anggota keluarga hanya boleh memiliki 1 buah mobil pribadi saja. Tidak diperkenankan memiliki mobil lebih dari 2. Perbandingan motor dengan mobil 1:2 dengan jumlah anggota keluarga tidak lebih dari 7. Selain itu, kewajiban pemakaian Pertamax bagi kalangan menengah ke atas harus diberlakukan. Masa iya banyak uang kok beli subsidi? ga malu?.

    Like

    Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s