E-KTP untuk warga Simprug

Tanggal 8 Oktober kemarin aku menerima undangan dari kelurahan. Isinya pemberitahuan untuk segera mengganti KTP lama menjadi e-KTP atau KTP elektronik.  Aku benar-benar meluangkan waktu untuk pembuatan kartu itu.

Undanganku berbunyi agar aku hadir pada hari Minggu, pukul 13.00-17.00 WIB, dan aku berangkat dari rumah pukul 13.30. Sesampainya di kelurahan aku menyertakan undanganku kepada panitia penyelenggara agar kehadiranku segera diproses. Beberapa menit kemudian aku dipanggil untuk tanda tanangan menyatakan keberadaanku dalam daftar absen. Kemudian aku mengantre untuk pengambilan sample sidik jari, foto, iris dan tanda tangan. Mungkin kebanyakan warga sudah menghadiri undangan pada pagi harinya, saat aku datang tidak begitu banyak warga yang berjubel mengantre. Beruntung sekali, ini memudahkanku.

Aku tidak bosan menunggu karena aku ditemani adikku. Cukup bagiku menunggu sekian puluh orang, akupun masuk ke ruang antrian pengambilan sample. Aku mengamati tingkah berbagai jenis orang yang akan segera mangikuti proses pembuatan KTP. Ada ibu-ibu yang menyisir rambutnya terlebih dahulu, malu-malu gara-gara adikku yang nyeplos dengan kepolosannya, ada bapak yang mengacak rambutnya ketika mau difoto, ada pula yang sudah berdandan tebal sedari rumah agar foto di KTP tampak bagus. Bahkan salah seorang bapak yang berada di depan sang ibu ngecengin dengan kata-kata lucu. “Lo abis berantem sama laki lo, ye? Kok mata lo biru begitu?” katanya. Si ibu Cuma nyengir sambil berlalu ke depan untuk diproses. Aku juga nyengir.

Kuamati ibu tengah baya di depan yang sedari tadi tampak belum beres. Sang ibu belum bisa menyelesaikan proses pengambilan sample iris. Berkali-kali dicoba namun tidak bisa. Ternyata salah satu mata beliau ini sipit. Hal ini mengakibatkan pengambilan sample iris terganggu. Akhirnya pengambilan sample ditunda agar pengantre berikutnya mendapat giliran. Sang ibu mundur dari meja panitia dan bergunjing dibelakang.

Beberapa orang telah selesai dengan prosesnya, kini giliranku. Pertama-tama aku ditanyai apa golongan darahku dan pekerjaanku, kemudian pengambilan foto. Petugasnya ngecengin aku nih, bikin ketawa mulu. Sesudah itu langkah pengambilan sidik jari dengan finger print. Sedikit berbeda. Sidik jari yang diambil adalah empat jari (telunjuk, tengah, manis, kelingking) tangan kanan dan kiri, ibu jari kanan dan kiri, serta telunjuk tangan kanan dan kiri. Langkah selanjutnya pengambilan gambar iris dengan alat yang aku tidak tahu namanya. Bentuknya seperti teropong yang biasa digunakan untuk berburu. Cukup mudah, hanya saja aku disuruh melotot. Wah, seperti apa ya..? Kuamati hasilnya, mata coklatku berubah manjadi warna putih pucat terang. Berbeda dengan mata orang yang kulihat tadi. Mata yang ini sungguh cemerlang. Subhanallah….Proses yang terakhir adalah pengambilan sample tanda tangan di atas signature print aku menyebutnya. Dua kali tanda tangan. Alhamdulillah semua berjalan lancar. Tinggal menunggu hasilnya dua bulan lagi atau menunggu undangan dari RT setempat, kata petugasnya. Ok I’ll be waiting.

Aku belum tahu pasti detail penggunaan e-KTP seperti apa. Namun jika ada pengambilan sample iris, aku jadi teringat film-film luar yang banyak menggunakan pamindai retina untuk brangkas rahasia. Seperti itukah penggunaannya?. Hehehe jika benar begitu mulai sekarang harus pastikan aman nih. Hei penjahat, siap-siap ketangkap yah.

http://www.harianjogja.com/read/gunungkidul/22017/telapak_tangan_kapalan_hambat_pengambilan_sidik_jari_e-ktp

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s